Pendidikan sebagai Pangkal Masalah Bangsa?

Tak kunjung usainya berbagai masalah moralitas di Indonesia sejatinya berpangkal pada pendidikan. Faktor kesadaran berkendara penyebab kecelakaan saat mudik lebaran 2012 misalnya. Tidak adanya kesadaran pengendara jalan yang mematuhi peraturan lalu lintas menjadi penyebab utama. Adanya kesadaran untuk berkendara dengan baik mestinya menjadi hal yang ditanamkan pendidikan. Asumsinya, seseorang yang terdidik mestinya tidak akan melanggar peraturan lalu lintas. Lalu, apa hasil pendidikan selama ini?

Pendidikan sekarang telah menjadi bagian dari masalah yang begitu runyam. Pendidikan yang seharusnya menjadi solusi untuk permasalahan bangsa, justru turut andil menambah rentetan masalah bangsa ini. Bagaimana tidak? Perhatikan saja anak didik sekolah sekarang. Pernahkah Anda mendengar mereka berkata kotor atau tindakan tak wajar seperti bullying sampai tindak aniaya lainnnya? [1] Dimana mereka belajar berkata-kata seperti itu? Atau, perilaku curang, tidak jujur, mencontek, dimana mereka mendapatkannya? Sebagian besar jawabannya adalah sekolah!

Sekolah telah menjadi sebuah institusi pendidikan yang bias arahnya. Di samping insfrasruktur yang tak layak pakai[2], sekolah juga tidak mendapat cukup pengajar. Inftrastruktur yang tak layak pakai disebabkan biaya pendidikan yang tinggi. Sedangkan ketidakcukupan ini sejatinya bukan karena jumlah pengajar yang kurang, melainkan distribusi yang tidak merata di daerah-daerah[3]. Itupun jika kualitas pendidiknya bagus, jika tidak?

Di samping itu, masalah pendidikan menjadi semakin runyam dengan integritas pelaku pendidik yang tidak kuat. Budaya nitip anak masih terjadi. Kejadian nonpresedural sehingga seorang peserta didik yang tidak memenuhi syarat bisa masuk lazim terjadi. Jika dirunut, ini semua berpangkal pada keterdidikan yang tidak benar namun membudaya. Sehingga, jangan heran bila sejak dini siswa sudah terbiasa mencontek. Bisa jadi itu adalah karma.

 

Pendidikan Adalah Sarana Penumbuh Bukan Pembunuh Potensi

Pendidikan formal yang sampai sekarang ada terbukti belum mampu memberikan pencerahan pada bangsa ini. Amanat UUD 1945 untuk kecerdasan bangsa belum tercapai. Alih-alih tercapai mendekat saja belum pasti. Mundur? Mungkin. Kemajuan pendidikan formal yang dinilai dengan terbentuknya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) belum mampu menunjukkan hasilnya. Jangankan hasil, yang terjadi malah pemaksaan sistem. Sistem belum lengkap, guru belum siap, masyarakat juga masih sanksi. Opini yang beredar sekarang justru sebutan SBI sebagai Sekolah Bertarif Internasional dikarenakan mahalnya biaya. Hikmah yang bisa kita ambil dari pelajaran di atas bahwa kemajuan tidak selalu dinilai dengan standar internasional ansich, namun harus dinilai secara menyeluruh.

Kemajuan harusnya dinilai bukan dari besar bangunan dan titel mentereng institusi, melainkan dinilai dari hasil peserta didik. Peserta didik yang berhasil adalah mereka yang benar-benar mampu mengembangkan potensinya secara optimal sehingga produktif. Produktif di sini memiliki makna mampu menghasilkan sesuatu untuk kehidupan baik untuk diri sendiri, terlebih untuk orang lain. Sehingga keberhasilan hakiki dari seorang peseta didik adalah pada kebermanfaatan dirinya untuk orang lain.

Sayangnya pendidikan saat ini tidak mengarah pada pengembangan potensi. Pendidikan cenderung menyunat potensi peserta didik. Bagaimana tidak? Coba perhatikan pelajaran yang didapatkan mulai dari SD sebagai basis penanaman ilmu. Ada mata ajar primer yang biasanya menjadi momok bagi peserta didik seperti Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Peserta didik yang menguasai pelajar tersebut cenderung dianggap pintar, sedangkan yang lain tidak. Begitu pula di SMP ketika IPA dibagi menjadi Fisika, Kimia, dan Biologi. Mereka yang ngelontok pada mata ajar tersebut cenderung dianggap lebih cerdas dibandingkan dengan mereka yang sukses di mata ajar Sejarah, Ekonomi, atau Geografi. Saat SMA pun begitu. Ketika penjurusan di tingkat kedua, jurusan IPA relatif lebih populer. Namun, apakah kecenderungan tersebut menjamin keberhasilan peserta didik ke depannya? Sama sekali tidak! Masalah utama dari ketidakberhasilan tersebut karena pendikotomian dan pengerdilan potensi peserta didik.

Bicara masalah potensi, semua manusia dilahirkan dengan potensi yang relatif sama. Selama masa pertumbuhan, kecenderungan potensial tiap manusia pasti ada. Dan potensi manusia sejatinya tidak terhingga dan beragam jenis. Pandai menyanyi, berbicara cepat, aktif bergerak, gemar menggambar, berpikir analitis, itu semua adalah potensi. Mata ajar yang kurang popular di sekolah pun sejatinya adalah sarana pengembangan potensi. Pengotakan pada mata ajar tertentu hanya akan menjemukan peserta didik dan mematikan potensi mereka.

Potensi harus ditumbuhkan. Penumbuhan potensi harus didukung dengan pemeliharaan karakter dasar. Dan lingkungan begitu besar berperan dalam hal ini. Seorang peserta didik akan merasa nyaman ketika lingkungan sekitar mendukung perkembangan potensi dirinya. Dia bebas melakukan apa pun yang dia suka. Tinggal diarahkan bagaimana kesukaan itu menjadi hal yang produktif. Sehingga kebutuhan untuk menyediakan lingkungan yang mendukung begitu besar. Dan sekolah harus menjawabnya. Ketika sekolah dituntut menjadi sarana pengembangan potensi tidak mampu menjawabnya maka dibutuhkan alternatif sarana pendidikan lain yang bisa menjawabnya.