Lebaran kali ini cukup berwarna. Lebih berwarna dari lebaran sebelum-sebelumnya. Bagaimana tidak, jika pada lebaran sebelumnya hari-hari diisi dengan lengangnya hari, lebaran kali ini tugas menyertai. Tulisan opini media, pengiriman lomba, resume program, cerita kontribusi kepada orang tua di rumah, sampai presentasi kehidupan asrama. Ya, itu semua diberikan PPSDMS sebagai asrama pembinaan.

PPSDMS mewajibkan itu semua sebagai sarana pembinaan. Tak lepas dari liburan, penugasan tetap diberikan. Itulah kenapa lebaran kali ini menjadi berwarna karena saya harus memikirkan sesuatu yang hendak saya kerja dan tuliskan. Salah satunya adalah tulisan tentang cerita kontribusi kepada orang tua.

Birrul walidain, itulah istilah lain dari kontribusi pada orang tua. Birrul walidain termasuk hal yang penting dalam kehidupan. Baik dari aspek agama maupun emosional kita. Bagaimana tidak bila Rasulullah saja memerintahkan kita berbuat baik pada orang tua, artinya termasuk dalam mengunjungi orang tua ketika kita telah merantau. Dari aspek emosional, ini menjadi momen dimana kedekatan terbangun kembali. Orang tua membesarkan kita dengan segenap jiwa raganya. Tak ada hal yang bisa membalas impas. Oleh karena itu, melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hati orang tua menjadi hal yang wajib.

Dalam lebaran kali ini, banyak yang bisa dilakukan dalam hal birrul walidain. Birrul walidain bisa dilakukan dari hal yang kecil. Justru hal-hal kecil bila dimaknai sebagai suatu yang besar akan menjadi hal besar pula besar. Dan berikut ini adalah cerita saya🙂

Selasa, 14 Agustus 2012, tepat pukul 05.00 kaki ini baru bisa beranjak turun dari kendaraan travel. Melangkah memasuki rumah. Selain disambut oleh keluarga tercinta, disambut pula Jimmy, kucing Persia blasteran belang hitam putih. Senang rasanya bisa kembali. Waktu yang tidak sampai dua pekan ke depan harus berkualitas, itu komitmenku.

Sehari-hari Banyuwangi cukup dingin. Malas kadang melanda. Namun, itu tidak menjadi excuse untuk beraktivitas produktif. Produktif bagi diri sendiri, maupun untuk keluarga. Berikut adalah hal yang mungkin bisa saya rangkum bagaimana ber-birrul walidain dengan cara sederhana namun tetap bermakna

1. Taat pada orang tua
Hal yang sangat wajar dan wajib dilakukan. Ketika orang tua meminta kita melakukan sesuatu, kita menurutinya. Dari mulai hal kecil sampai hal besar. Misalkan saja ketika orang tua kita menyuruh kita makan, datanglah segera dan tampakkan wajah yang sumringah saat makan. Tidak hanya orang tua, orang lain pun akan senang dengan gelagat kita. Itu artinya kita menghargai masakannya, terlepas makanan tersebut enak atau betul-betul enak. Hehe. Mencuci piring, membersihkan rumah, menemani orang tua (yang kebetulan sedang flu) ke dokter, membelikan makanan, menjemur pakaian, membelikan garam, menata kamar mandi, dan sebagainya. Terlebih lagi bila yang dimintanya sebenarnya untuk kebutuhan kita sendiri. Disuruh mandi, lekas bangun, berangkat shalat, dan sebagainya. Sampai hal yang cukup besar seperti menemani orang tua silaturahim, mengunjungi pembangunan rumah (rumah kedua.red) dan membantu pekerjaan kuli di sana, sampai membantu memikirkan bisnis kebun kelapan dan rumah yang hendak dibangun, serta hal lainnya. Selama ketaatan itu dimaknai sebagai ibadah, maka melakukan hal itu dengan gembira akan memberikan kesan tersendiri, baik untuk kita maupun orang tua.

2. Mengangkat martabat orang tua
Mungkin bahasa di atas terlalu tinggi, namun sejatinya tidak juga. Salah satu target saya dalam liburan kali ini adalah bisa menyetir mobil. Cukup lama sudah tidak belajar lagi. Mungkin hampir tiga tahun yang lalu. Tapi, aku yakin bisa. Apalagi ditemani sang papa yang sudah jago dan mama yang juga bisa. Cara mengangkat martabat orang tua adalah dengan merendahkan diri kita dengan bertanya, meminta masukan, minta diajari tentang segala hal yang orang tua bisa, termasuk cara menyetir mobil tadi. Dengan ditanya, orang tua merasa ter’orang tua’kan. Merasa terangkat harga dirinya karena bisa mengajari anaknya. Merasa mampu memberikan teladan untuk kesekian kalinya.

3. Menjadi kebanggaan orang tua dengan kelebihan yang dimiliki
Orang tua mendidik anak tentunya tidak untuk menjadi seperti dirinya, tetapi lebih baik dari itu. Orang tua yang membiarkan anaknya tumbuh mengembangkan potensinya sampai melebihinya adalah orang tua yang tidak sekadar ‘tua’ tetapi juga benar-benar dewasa. Dan kelihatannya orang tuaku paham itu. Alhamdulillah.
Selama lebaran ini, entah kenapa selalu minta diimami shalat jamaah. Jika mama yang minta mungkin biasa. Karena sebelumnya juga sering. Tetapi, ini papa yang minta. Entah saat masih di bulan Ramadhan, ataupun setelah Idul Fitri. Bahkan untuk mengimami keluarga besar dengan saudara pun saya yang diminta. Syukur yang tak terkira pada Allah swt. atas nikmat suara dan kemudahan belajar tartil Quran selama ini.
Saat malam ke-27 Ramadhan, papa mengajak silaturahim ke Kebalenan (kelurahan rumah sebelum pindah) untuk ikut tadarusan di masjid pun seperti itu. Ada kesyukuran tersendiri ketika ustadz Chairil, ustadz yang mengajar ngaji saya dulu, banyak memuji bacaan Quran saya yang bisa melagukan tartil Ahmad Saud, tentang hapalan Quran, dan lainnya.
Begitu pula tentang kabar diterimanya saya di PPSDMS. Ternyata hal ini cukup bisa menjadi cerita. Tentang program pembinaan yang diharapkan mampu mengembangkan potensi diri. Untuk kontribusi yang lebih luas, demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.