Sahabat yang baik hatinya, bagaimana kabar iman hari ini? Bagaimana pula dengan hati? Semoga di setiap untaian kata dan derap langkah hidup kita senantiasa berada pada titian tapak Ilahi.

Sekian tahun dalam tapak hidup kita, tak terasa sudah masuk bulan Feburari (lagi). Ngomong-ngomong tentang Februari, ada apa ya? Biasanya sih Februari jadi bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya lantaran salah satu hari spesial di tanggal 14, Valentine Day (V-Day). Hari kasih sayang, penuh dengan cinta, sebagian orang menyebutnya begitu. Wah, kayaknya asyik nih… Ada satu hari spesial yang disebut hari kasih sayang. Kesannya co cweet beud. Apakah artinya di hari itu kita bebas mengekspresikan kasih sayang pada kekasih kita? Atau, hari dimana setiap orang membersamai kekasihnya? Atau, tau ah… Apa sih V-Day itu sebenarnya?

Berbicara masalah apa itu V-Day, bisa jadi masing-masing dari kita punya arti tersendiri dalam memaknainya. Namun, sebaik-baik pengertian tentang suatu istilah tentu perlu ditinjau dari akar sejarah dari istilah tersebut, termasuk Valentine. Mungkin sebagian orang tidak percaya, apatis, tidak peduli pada sejarah V-Day. Asal senang dan menuruti akal nafsu yang menjadikan V-Day menjadi hari yang sangat dekat dengan maksiat. Karena, setelah ditelusuri ternyata V-Day merupakan salah satu hari perayaan bangsa Romawi pagan (penyembah berhala. red), Lupercalia lebih tepatnya. Perayaan yang diperingati setiap tanggal 13-18 Februari itu bertujuan memuja dewa kesuburan Lupercalia. Lupercalia dipersonifikasikan sebagai dewa kesuburan dengan badan manusia dan kepala serta kaki kambing. Dalam perayaan Lupercalia, masyarakat berpesta sex bebas untuk mengambil semangat Lupercus (dewa Pan dalam mitologi Yunani) dan Aprhodite (dewa kecantikan). Perayaan Lupercalia ini merupakan perayaan wajib yang menjadikan nafsu setan sebagai suatu yang dipuja baik laki-laki maupun perempuan, pria atau wanita. Beberapa ratus tahun tradisi ini berjalan, sampai agama Kristen datang sebagai agama Romawi. Namun, sayangnya kedatangan Kristen yang saat itu telah terkontaminasi (tidak murni ajaran Isa as.) justru menjadikan legalisasi akan perayaan ini dengan ‘bungkus’ “Valentine Day”. Dan akhirnya, pada tahun 496 M Paus Gelasius meresmikan V-Day menjadi hari besar Kristen yang dirayakan sebagai agenda tahunan. Acaranya? Sama maksiatnya! Namun, seiring dengan berkembangnya zaman pada 1969 gereja menyatakan V-Day terlarang dirayakan karena Santo Valentine (yang menjadi sejarah salah kaprahnya V-Day) ditemukan hanyalah sebagai tokoh fiktif yang menjadi legalisasi perayaan Lupercalia.

 

Dewa Lupercalia yang dipuja oleh orang Romawi

 

Seiring dengan sejarah yang sudah mengakar, ternyata kenyataan bahwa V-Day tidak lain hanya sebagai perayaan maksiat tidak menjadikan kaum Kristen ‘bertobat’ atas kesalahan sejarah ini. V-Day tetap saja menjadi agenda tahunan yang disalahkaprahkan tetap menjadi hari yang spesial sebagai hari kasih sayang. Dan sayangnya lagi ternyata yang menjadi objek dalam perayaan salah kaprah ini termasuk umat Islam. Entah ini menjadi konspirasi yang sengaja dilakukan atau memang merasa bodo amat sama sejarah yang pasti perayaan V-Day bukanlah suatu hal yang dibenarkan dan justru berpotensi membawa bencana bagi umat manusia. Lihat saja fakta yang ada, tanggal 14 Februari negara Inggris menjadikan hari itu sebagai “The National Impotence Day” dengan himbauan kepada pada pemuda-pemudinya tidak nge-seks pada minggu di hari itu. Di Amerika, tanggal 14 Februari menjadi “The National Condom Week” dengan alasan yang sama. Apakah Indonesia mau mengikuti mereka? Naudzubillah…

Dari asal-muasal sejarahnya saja, cukuplah V-Day menjadi hal yang terlarang bagi seorang Muslim. V-Day merupakan budaya yang berasal dari pemujaan berhala. Sehingga, segala macam bentuk yang dilakukan seorang Muslim senyampang itu mengikuti budaya V-Day, tidak dibenarkan, haram diikuti.

 

Allah swt. memperingatkan kita,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya.” (Al Isra’ : 36).

 

Rasulullah saw. pun begitu,

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

 

Sahabat sekarang sudah tau bagaimana hukum tentang V-Day. Budaya ikut-ikutan bagi seorang Muslim memang seharusnya tidak terjadi bila iman yang tertancap dalam hati sudah kokoh. Oleh karena itu, salimul aqidah atau aqidah yang bersih menjadi salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Apakah Islam tidak cukup sebagai kebanggaan kita sehingga kita mesti ikut-ikutan? We should be proud to be a Moslem! 🙂

So, menjawab anekdot pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, V-Day: Love or Lust? Sayang atau Syahwat? Sahabat sudah bisa menjawabnya sendiri. (BG)

 

(dikutip dari berbagai sumber)