Upaya kaderisasi berupa rekrutmen dalam sarana daurah (dalam notes yang lalu saya gunakan terminologi ‘pelatihan’) tidak akan terlepas dari mekanisme konsepsional dan operasionalnya. Dalam istilah umum kita mengenalnya dengan istilah manajemen. Konsepsional suatu daurah terletak pada analisis filosofis daurah itu diadakan. Sehingga dari sana muncullah target dari pengelolaan daurah tersebut sampai indikator pencapaiannya seperti apa. Dari aspek operasional, mekanisme ini mengambil peran penting dalam upaya optimalisasi pencapaian konsepsional tadi. Sehingga kedua aspek tersebut tidak bisa dinafikan antara satu dengan yang lain dalam pengelolaanya.

Dalam upaya optimalisasi hasil daurah tentu kita selalu berpedoman pada fungsi suatu daurah tersebut diadakan yang biasanya memang paten konstruksinya. Secara umum, instrumen daurah suatu kaderisasi sedikitnya memiliki 3 fungsi: 1) sebagai sarana internalisasi nilai keislaman sesuai dengan marhalah daurahnya, 2) sebagai sarana upgrade kapasitansi dalam upaya menyiapkan kader untuk pengelolaan amanah setelahnya, dan 3) sebagai sarana membentuk kesatuan ruh dan ukhuwah antarpeserta. Ketiga fungsi ini mewakili aspek kapasitas yang berbeda: tarbawi, organisasi, dan kejamaahan. Ketiga hal inilah yang dimaksud dengan integritas kaderisasi. Internalisasi nilai keislaman penting dalam upaya pengembangan tsaqofah dalam membentuk fikrah muslim yang lebih syamil. Kapasitas organisasi dalam koridor pemahaman Islam juga penting dalam upaya penekanan komitmen dalam jamaah. Kesatuan ukhuwah dengan intensitas pertemuan yang lama dan instensif membuat seseorang menjadi lebih mengenal saudaranya. Sehingga, tidak boleh tidak ketiganya harus terinternalisasi secara proporsional dalam daurah tersebut.

Fenomena yang sekarang merambat dan mulai mengakar adalah pragmatisme pengelolaan daurah yang hanya memperhatikan konsepsional. Hal tersebut salah satunya berupa pengabaian aspek operasional dalam memaksimalkan peran daurah dalam pembentukan integritas seorang kader. Pengelolaan operasional tidak mendapat wacana yang cukup dalam pembahasannya. Yang biasa terjadi, hanyalah pembahasan panjang yang Nampak elegan dari harapan-harapan pengelola tanpa memperhatikan istrumen pengelolaan lebih jauh, bagaimana ketiga unsur integritas kaderisasi itu bisa didapatkan. Sehingga, tampak luarnya adalah kaderisasi konservatif dengan metode yang itu-itu saja tanpa gebrakan baru yang ujungnya hanya akan membuat stagnasi bagi pengelolanya. Padahal aspek kemanfaatan daurah sedikitnya memiliki 2 dimensi: 1) kemanfaatan untuk peserta dan 2) kemanfaatan untuk pengelola (ada tiga sebenarnya, yaitu: lingkungan, tapi tidak dibahas di sini). Yang dimaksud kemanfaatan untuk peserta adalah berbagai hal didapat oleh peserta dalam upaya pengembangan dirinya sesuai dengan target pengelola, sedangkan yang dimaksud dengan kemanfaatan untuk pengelola adalah segala hal yang berhubungan dengan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan, pengorganisasian, atau pengembangan suatu design atau model daurah. Bicara dimensi kemanfaatan yang pertama, penulis pikir pembaca telah memahaminya. Namun, bicara tentang dimensi kemanfaatan yang kedua, kita bisa telaah lebih jauh.

Pengelola daurah sebagai tombak konseptor maupun operator dalam kaderisasi harus mampun menginternalisasi setiap pribadinya bahwa upaya yang dilakukan pasti membawa manfaat bagi dirinya. Seringkali kita dapati suatu kepanitiaan dengan daurah yang cukup luar biasa namun orangnya hanya itu-itu saja. Hal tersebut bisa jadi karena satu alas an mendasar: kurangnya motivasi. Kurangnya motivasi ini terjadi karena mereka belum bisa menjawab pertanyaan AMBAK: Apa manfaatnya bagiku? Bicara masalah motivasi, terkadang memang sebagian dari kita telah mendapatinya ada pada diri kita. Namun, fenomena yang berkembang sayangnya hal semacam itu hanya didapat dalam bentuk hamasah saja. Hamasah memang penting. Kepercayaan bahwa dakwah ini adalah sebagai jalan ridho Allah menuju pintu surga kita adalah motivasi utama. Namun, yang biasa terjadi akhirnya merupakan aktivitas pragmatis-konservatif yang senantiasa menggelayuti gairah gagasan baru atau ide intelektual sehingga enggan untuk dikeluarkan. Padahal, bila memang kita menjadikan motivasi di atas sebagai satu-satunya prinsip dalam menyemangati diri, harusnya frame berpikir kita adalah bagaimana pengembangan suatu model yang pernah ada itu bisa lebih baik, lebih manfaat, dan lebih konstruktif, sedangkan kesemuanya itu tidak akan muncul tanpa satu gagasan dasar atas nama PERUBAHAN!

Kembali pada bahasan awal, jadi pengelolaan suatu daurah menjadi penting untuk dikembangkan dinamisasinya. Karena hal ini, selain sebagai bentuk perbaikan hasil dari evaluasi, penting untuk pengembangan wacana intelektual kader. Aspek konseptual dan operasional sangat mungkin didinamisasi dengan berbagai pertimbangan tertentu. Yang tidak bisa berubah adalah integritas kaderisasi tersebut sebagai ruh yang senantiasa harus dicapai.