Orang bilang bahwa dakwah is a dinamic art.  Dakwah adalah seni yang dinamis. Saya sepakat dan memang harusnya begitu. Dalam upaya membangun entitas baru dalam fikrah seseorang memang membutuhkan serbagai strategi! Sehingga, bicara masalah kaderisasi, tak ubahnya berbicara masalah kehidupan. Bicara masalah kaderisasi, tak ubahnya berbicara masalah denyut nadi yang terus berdetak. Karena kaderisasilah kunci dakwah yang tak pernah henti.

Dalam upaya mengader, suatu lembaga dakwah biasanya melakukannya dengan cara membuat suatu pelatihan. Pelatihan tersebut biasa pula disebut dengan training atau daurah. Pelatihan Dakwah Kampus (PDK), misalkan seperti yang acapkali istilahnya digunakan seantero kampus Airlangga. Atau Daurah Marhalah, pleatihan yang menjadi tagline KAMMI dalam melakukan rekrutmen.

Namanya pelatihan, tentu ada materi yang diberikan. Nilai dalam materi itulah yang nantinya diharapkan mampu terinternalisasi pada diri peserta. Sehingga pesesrta yang mengikuti pelatihan tersebut ‘tercetak’ seperti harapan penyelenggara. Dari mulai fikrah, kalam, sampai ‘amalnya. Kesemuanya mampu terwarnai dengan nilai tersebut.

Seiring dengan berkembangnya model pelatihan yang selama ini diadakan, fenomena kader (sebutan untuk mereka yang telah mengikuti pelatihan dakwah) yang tidak aktif sampai lepas tak tertarbiyah sejatinya tidak terlepas dari pelatihan tersebut. Sebagian pendapat mungkin berpendapat bahwa pelatihan dakwah hanyalah pintu gerbang yang mengantar seseorang dalam mengenal Islam lebih dalam. Selebihnya yang paling berperan adalah proses dalam menjalani follow up dari pelatihan tersebut, seperti mentoring/halaqah, amanah kepengurusan, maupun amanah kepanitiaan. Tidak serta merta seseorang mampu berubah senyampang hanya dengan mengikuti suatu pelatihan. Untuk mereka yang berpendapat demikian, saya katakan pendapat itu tidak salah, hanya saja kurang tepat.

Ibarat suatu pintu, pelatihan dakwah pada setiap tingkatnya akan mengantar seseorang pada amanah yang lebih besar. Hal ini koheren dengan suatu ungkapan bahwa semakin besar pengetahuan seseorang maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Pelatihan dakwah tersebut menempati proporsi yang besar dalam menampilkan suatu bentuk nilai yang harus tersampaikan pada peserta. Karena apabila dalam prosesnya nilai ini tidak tersampaikan maka sama halnya dengan kita tidak berbuat apa-apa. Pelatihan atau tidak pelatihan sama saja. Kaderisasi tidak ada wibawanya! Oleh karena itu, pemahaman akan amanah besar tersebut harus betul-betul terinternalisasi. Bagaimana mungkin kesadaran akan tanggung jawab itu akan muncul apabila pelatihan dakwah sebagai pengantar nilai tersebut tidak mampu menyampaikan maksudnya dengan tepat? Sehingga, dalam hal ini pemahaman akan pengelolaan, manajemen, model, atau design sebuah pelatihan, daurah, atau training betul-betul harus dimiliki oleh a’dho kaderisasi yang mengemban amanah ini. Karena di tangan merekalah kader itu tercetak. Karena di tangan merekalah wajah dakwah ke depan yang tercermin dari nilai yang dibawa kadernya. Sehingga, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah, “Seberapa luaskah wacana dan tsaqofah kita dalam mengelola suatu pelatihan dakwah dalam aspek konsepsi, operasional, sampai dengan evaluasinya?”

Karena besarnya proses dan hasil pelatihan dakwah tidak akan lebih besar dari kapasitas mereka yang mengawal dakwah itu sendiri.