Oleh: Ami Fidiyanti, SMAN 28 Jakarta

26 Januari 2001,

Kulihat dari ujung kaca mataku, teman-teman ikhwan membagi-bagikan jilbab pada teman–teman perempuanku.

“Ayo dong pake’, nih udah dibawain! Pake’deh, jadi tambah cakep lho”!,ucap mereka dengan semangatnya.

Tentu saja kubersyukur.

“Ah, teman-teman makasih yaah dah ngeringanin tugas akhwat untuk merayu mereka.”

Kadang dipikirkan lucu juga teman-teman perempuan itu, mereka nggak kuat kalau ngerayu itu ikhwan. Ikhwannya sih seneng-seneng aja, begitu juga dengan teman-teman perempuanku itu yang rela didandanin meng-akhwat. Ya, begitulah yang kami lakukan saat pelajaran agama Islam. Pak Guru membolehakan kami lakukan saat pelajaran agama Islam. Pak guru membolehkan kami belajar tanpa melepas jilbab maka kami memenfaatkan untuk ‘manjilbabi’ seluruh siswi yang berada dikelas dengan cara memodali mereka jilbab dan peniti. Perbuatan dramatis itu jelas mendapat teguran dari sekolah yang diarahkan ke Pak Guru Agama.

Teguran itu sebenarnya bearawal dari sikap kami yang mulai berjilbab di sekolah yang komunitasnya tak pernah berhenti sejak kemunculannya pada 1983 di sekolah tercinta ini. Persoalan jilbab disekolah negeri mulai ada sejak era’80-an. Kisahnya selalu klasik yang diakhiri dengan keluarnya siswi tersebut dengan sukarela. Hal itulah yang dialami oleh kakak kelas pada angkatan ’83-’85. tahun-tahun awal itu saat-saat yang berat bagi jilbaber. Apalagi kepengurusan Rohis belum berjalan baik, masih individual dan pengajian disekolah belum ada. Belum ada komunikasi diantara para jilbaber karena jumlahnya sangat minim, untuk angkatan ’83 saja hanya ada satu orang. Saat itu Ia dimusuhi oleh Guru bahkan memakai jilbab terus di sekolah. Akhirnya seperti sisiwi di sekolah lain pada umunya, ia memilih keluar untuk menjaga aqidah Islamiyah. Untuk sesaat, sekolahku ini menjadi kawasan bebas jilbab.

Keberadaan jilbab mulai ‘welcome’ saat jilbaber menrut peraturan sekolah untuk bongkar pasang beberapa tahun setelah itu. Wakasek yang kebetulan non-muslim tetap menentang keberadaan kami, sedangkan Kepsek, Alhamdulillah tidak terlalu menentang. Ia melihat siswi-siswi berjilbab di SMA tetangga kami (SMAN 26) banyaj yang membuat harum nama sekolahnya dengan berbagai prestasi dalam berbagai lomba-lomba bidang studi. Di sini, kami memangm low profile, hanya ikhwannya yang menonjol sehingga citra jilbab belum terbangun. Walau demikian, para guru cukup toleran dengan memperbolehkan kami melepas jilbab setelah kami sampai disekolah. Hal itu tidak bias kami lakukan setiap saat karena Wakasek tercinta itu sudah menunggu dengan setia di pintu pagar.

“Ayo dibuka jilbabnya!” ujarnya tanpa memandang bagaimana perasaan kami “digundulin” dijalan raya yang cukup ramai.

Ya, apa boleh buat, kami terpaksa buka jilbab disitu. Alhamdulillah, ia tidak tiap pagi nongkrongin kami. Selamat dari ujian pertama, melangkah pada ujian kedua. Guru BP kadang ngecek siswa, dari baju kependekan sampai….

Yang kepanjangan, “Kalau ada yang kepanjangan, saya gunting!” katanya.

“Ah, ujian itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan para sahabat, seperti: Bilal ataupun Amar bin Yasir yang kehilangan kedua orang tuanya.”

Kami menyadari bahwa kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Jilbab-jilbab yang melambai bahkan ada yang super lebar sampai menyentuh ujung sepatu sempat diprotes pleh sekolah. Yang membuat kami sedih bahkan cenderung strees, yaitu jam olahraga. Olah raga berarti olah jiwa bagi kami. Masya Allah, kami harus pamer aurat, bukan hanya sekedar buka aurat saja. Untuk membayangkannya saja ngeri rasanya tapi itulah yang terjadi pada tahun 1990. pada jam plah raga itu kami harus lari ke luar sekolah, rute yang ditempuh adalah sekolah-lapangan Palapa PP. sekolah kami pas di pinggir jalan raya, manusia dan mobil berseliweran setiap detiknya, dan mereka dengan enaknya dapat memandang kami. Bias dibayangkan bagaimana rasanya kalau ‘gundul’ hanya baju olah raga, tanpa kerudung kepala, kami tetap harus berlari. Hanya dengan pakaian dan celana selutut saja sudah begitu menyiksa kami, ditambah lagi harus berkeliling di jalan raya. Tampang kami yang culun dengan rambut diikat kuda tentu ketara bedanya dengan siswi yang tidak berjilbab, seolah-olah orang-orang dijalan mengatakan,

“Itu tuh siswi yang pake’ jilbab!”

“Ya Allah, kuatkan hamba.”

Allah Akbar! Kami mampu melakukan “kucing-kucingan”. Setelah keluar dari pntu gerbang, kami mencari mobil yang diparkir, lalu dibalik mobil itu, kami mengenakan jilbab dan….. berlari. Sampai di daerah Palapa, dengan lambat-lambat, tanganku bergerak keatas membuka jilbab,

“Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kami sadari kami tidak kaffah tapi itulah yang kami mampu kami lakukan saat ini. “ampuni kami ya, Allah!”

“Kapankah tibanya pertolongan-Mu, ya Allah?”

“Kapankah kau kabulkan doa yang kami bisikkan dalam shalat-shalat panjang kami?”

Subhanallah, titik terang itu mulai berpencar cahayany. Saat itu pada 1990, ada musyawarah MPK (Majelis Permusyaratan Kelas) se-Jaksel yang dihadiri beberapa SMA diantaranya 6,8,28,38,70 yang membahas lokalisasi WTS. Topic yang berkenaan itu menjadi momen yang pas untuk melempar isu jilbab dengan harapaan jilbab diperbolehkan. Momen kedua menuai isu jilbab saat pak Arif Rahman (Kepsek SMA Lab-School) berbicara di sekolah kami. Di depan para guru, Pak Arif menyatakan,

“Jilbab itu bukan suatu ancaman, malah membuat anak menjadi anak baik.”

Allahu Akbar! Kami melihat reaksi yang positif,

“Ssst, Wakasek ngangguk-ngangguk, ibu BP juga ngangguk-ngangguk, wah ada harapan nih,”, bisik teman sebelahku layak berdoa.

Doa adalah usaha kami yang tak pernah terhentikan, ia selalu terucap setiap detik langkah kami. Subhanallah, Depdikbud sebagai pihak yang berwenang mendengar aspirasi kami (setelah beberapa kasus jilbab mencuat) dengan mengeluarkan SK 100 tahun 1991. kami bersyukur, dan memang selayakny bersyukur. Sujud syukur pun dilakukan serentak di Masjid Al-Azhar pada Januari 1991. mendengar kabarnya saja, hanya air mata yang menjadi saksi. Kami tidak bias membendung tangis ini. Alhamdulillah wa syukurillah. Sementara itu, kami masih bingung, apakah sudah mengenakan jilbab atau belum kami tak mempunyai SK tersebut. Kepsek yang baru hanya menyatakan,

“Saya tidak melarang, juga tidak menyuruh.” tetapi guru BP tetap berpatroli seperti dulu.

Sujud syukur di Masji Al-Azhar dihadiri oleh ratusan mulimah dan subhanallah, aku…adalah salah satu diantaranya. Ternyata, yang berjuang menegakkan syariat Allah itu bukan hanya aku, banyak sekali jumlahnya, belum lagi didaerah yang tidak sempat menghadiri acara itu. usai acaradipagi itu, tugas baru menunggu, yaitu memberitahukan kepada teman-teman di sekolah bahwa futuh jilabab sudah benar-benar terjadi. Kami juga harus menentukan apakah mulai hari ini kami belum siap dengan futuh jilbab? Apakah terlalu singkat perjuangan kami sehingga kami belum bias menghayati perjuangan kakak-kakak kami dahulu? Akhirnya kami menunda memakai jilbab pada hari bersejarah itu.

Pada masa transisi itu, para ikhwan mengadakan negosiasi dengan pihak sekolah. Mereka meminta para akhwat bersabar,

“Aduh akhi, bagaimana mau kompromi lagi, ini kan aurat, yang malu kan kita-kita ini para akhwat,” keluh akhwat.

Alhamdulillah pada pelajaran Olah raga, jilbab boleh dikenakan. Dalam keadaaan yang tidak menentu itu, guru BP memanggil semua jilbaber kelas I,II,dan III untuk briefing. Kami, sekitar 40-50 orang sudah mempersiapkan argument, memilih jubir, tapi kami tidak sanggup bicara, semuanya menangis duluan. Guru BP memulainya dengan menyentuh jiwa bahwa kewajiban ini untuk orang tua. Ia memainkan emosi yang terdalam, tentang bakti kami kepada orang tua. Wakasek juga mengingatkan bahwa sikap keras kami tak ubahnya seperti gerakan PKI yang laten. Kami memang menentang peraturan pemerintah, kami menentang sekolah tapi Masya Allah kami…., kami menentang orang tua, terutama aku.

“Ya Allah, bagaimana kami bisa bicara, kalau kami langsung dingatkan kepada orang tua kami di rumah. Kubayangi bapak dan ibu yang kecewa terhadap sulungnya ini. “

Aku adalah anak sulung yang dicita-citakan menjadi wanita karir. Ternyata aku lebih cepat diizinkan meraih hidayah-Mu. Aku mengenal jilbab sejak SMP kelas III. Aku sempat nyantri saat liburan, yang setiap sang Ustadz datang mengajar, ia selalu mengatakan,

”Pakaiannya harus pakaian muslimah!”

Kulihat juga keagungan wanita berjilbab. Simpatiku pada jilbab sampai pada tahap identifikasi, sayang ortu tidak mengizinkan. Setelah itu, hari-hariku berjalan seperti biasa sampai aku diterima di SMA Negeri 28 Jaksel ini. Keahlian menari Jawa mengantarkan aku menjadi nominasi AFS. Saat tes akhir AFS, aku berada pada garis kebimbangan setelah membaca artikel tentang seorang wanita barat yang masuk Islam dan memilih hijrah ke Mesir.

“Lho kok, kenapa aku, wanita Islam malah mau hijrah ke Amerika?”

Konflik batin terjadi. Aku teruskan niatku di AFS karena aku tertantang ucapan Bapak yang mengizinkanku berjilbab jika aku lulus AFS. Ternyata aku gagal. Sementara itu, Bapak terus mencari kebenaran tentang jilbab kepada seorang ulama yang terkenal yang baru saja pulang dari Amerika, yang kebetulan tetanggaku. Bapak mendapat pertimbangan bahwa jilbab itu dosa kecil yang diampuni. Astaghfirullah! Kuhiraukan argument ulama tersebut, aku putuskan pake’ jilbab saat mendaftar ulang kelas II. Ortu meradang, katanya,

“Ini sekali, apa diterusin?”

Aku disidang.

“Benazir Bhuto saja nggak begitu, pak itu aja yang ulamanya tidak berjilbab,” tegas bapak.

Aku tetap pada sikapku. Bapak jatuh sakit. Akhirnya aku backstreet, berangkat dari rumah ke sekolah melewati jalan yang sepi lalu pake’ disana sampai di sekolah. Hal itu kulakukan selama seminggu dikelas II.

“Ya Allah, aku mampu membohongi ortu, tapi…..aku tidak mampu membohongi diri sendiri. Bismillah, aku beranikan diriku pulang dengan memakai jilbab sampai depan rumah.”

Jilbabku langsung direnggut saat itu juga, aku hanya menatapnya lalau masuk kamar dan mengadu pada Allah. Aku menangis. Bapak mengancamku,

“Kalau kamu pake’ lagi, semua bajumu akan diambil.”

Aku mencoba istiqomah dengan mencuci dan menjemur baju sendiri. Herannya, semuanya hilang. Ketika hal ini aku ceritakan pada akhwat di sekolah, mereka malah menertawakanku,

“Masa’ dirumah sendiri bisa hilang?” kata mereka. “Iya..iya..lucu juga.”

Walhasil, aku kehabisan baju dan jilbab.

Subhanallah, aku tak pernah membayangkan pertolongan Allah datang kepadaku. Saat aku benar-benar kehabisan sandang untuk sekolah, aku mencoba mengambilnya dari kamar Ortu. Kuharap bapak tidak membakar baju dan jilbabku seperti janjinya. Aku tidak tahu bagaimana badanku bisa mengecil sehingga bisa masuk kamar yang terkunci itu. aku hanya melepas satu buah nako dan melewatinya dengan mudah. Badanku memang kurus, tapi melewati jendela nako yang kulepas satu, aku tak bisa membayangkannya. Allahu Akbar. Kudapati diatas lemari, semua baju yang kubutuhkan. Bluur…., akhirnya kuambil dua buah untuk menepis kecurigaan.

Semenjak memakai jilbab dan menentang ortu, aku disisihkan dan tersisih dari keluarga besar. Aku seperti disembunyikan di dalam rumah saja, mereka malu mengajakku karena berjilbab. Itu tidak mengapa tapi…ternyata Bapak menahan SPP-ku selama satu semester. Alhamdulillah, ada Om-ku yang membayarkannya tanpa sepengetahuannya. Aku tetap mencoba untuk berkomunikasi, aku katakan pada Bapak,

“Walaupun aku tidak nurut pada Bapak, tapi aku tetap anak Bapak.”

Bapak memenuhi permintaanku hingga Bapak kembali membayarkan SPP-ku. Sikap Bapak tetap tidak berubah. Tekanan dari sekolah dan terlebih dari rumah membuatku selalu berpikir, aku terkena sakit kepala yang amat sangat, stress, high tension, dan harus berobat ke bagian neurology RSCM sendirian. Aku masuk EEG sendirian, dan aku menagis sendirian saat kartu berobatku hilang. Hasil EEG menyatakan bahwa aku tidak ada kelainan, hanya tension headache ‘tekanan psikis’. Hal itu terjadi karena kejadian berat selama dua tahun setelah berhijab. Aku bertambah stress menjelang UMPTN. UMPTN adalah penentuan, kalau tidak lulus maka aku makin tersisih bahkan dalam keluarga besarku.

Pada saat libur lebaran, kami pulang kampong ke Solo. Ibu mencoba mengobati dengan membawaku ke pengobatan tradisional, semacam pijat refleksi. Mungkin ibu kasihan melihatku jika datang pusing yang amat sangat. Aku mengaduh di kamar sampai tetangga sebelah mendengar erangan sakitku. Orang tua itu memegang kakiku, katanya,

“Keras amat sih mbak, mendem apa?”

Saya sakit menahan nangis. Ibu menjelaskan,

“Iya mau pake’ jilbab, tapi nggak boleh cerita –cerita apalagi sama Omnya yang deket, walau tinggalnya jauh dari kami.”

Bapak itu juga cerita bahwaanaknya yang kuliah di UNS bahkan bercadar, dan tetap pada pendiriannya. Terus Ibu bilang,

“Kalau mau pake’, terserah!”

Terserah… Kata itu yang sebenarnya aku tunggu selama dua tahun dari orang tua yang melahirkanku. Subhanallah ibu ridha. Tiga pekan aku dikampung, penyakitku hilang. Aku mengikuti UMPTN denagn baik dan Alhamdulillah diterima di PTN favorit pada 1992.

Bila kukenang perjuangan kecilku, ternyata tidak sia-sia. Perlahan, satu per satu adik-adikku ikut mengenakan jilbab. Kenikmatan ini memang terlambat disbanding dengan kenikmata disekolah. Sekolah tidak melarang lagi setelah SK jilbab ’91 diputuskan dan disosialisasikan. Jumlah kami dari 40-an bertambah menjadi 150-an jilbaber. Aktivitas mendandani siswi untuk mengakhwat terus berlanjut walau bahkan pelajaran Agama usai. Hanya guru nonmuslim yang menyindir,

“Coba ya, dirapikan pakaiannya.”

Aktivitas Rohis juga semakin baik. Pak Guru agama ditunjuk menjadi PJ Tafakur Alam SMA se-Jaksel. Rohis sendiri melakukan konsolidasi dengan membina seluruh anggotanya menjadi alumni. Pihak sekolah mendukung dengan cara mewajibkan acara Rohis seperti Studi Islam Ramadhan, bahkan masuk rapor.

“Tak lepas-lepasnya lidah ini mengucapkan tahmid pada-MU, ya Allah.”