Perempuan Taat di Balik Pemimpin Hebat

Oleh: Mawar Haroki


Kau untukku dan Aku untukmu. Itu Kodrat Kita

Berpasang-pasangan, itulah yang menjadi kesan pertama ketika pembicaraan mengarah pada dua insan berbeda. Ya, berbeda. Namun, perbedaan yang sesungguhnya tidak benar-benar berbeda. Antara laki-laki dan perempuan. Antara pria dan wanita. Kaum adam dan kaum hawa. Setiap makhluk di dunia Allah ciptakan dengan keseimbangan sedemikian rupa. Bahkan sampai memicingkan mata untuk mencari-cari sesuatu yang tidak memenuhi hukum keseimbangan ini pun, kita tidak akan menemukannya. Karena memang seperti itulah adanya dalam surat cinta-Nya pada kita[1]. Itu kodrat kita. Hal ini pun termasuk dengan adanya perempuan untuk laki-laki. Begitu pula sebaliknya, adanya laki-laki untuk perempuan. Sekalipun kau dapati dua wujud ini dengan segala perbedaannya, namun sejatinya kita ada dalam keseimbangan-Nya.

Jika Sama, Itu Sehati. Jika Berbeda, Itu Saling Melengkapi

Adanya dua insan berbeda dalam satu dunia merupakan salah satu kehendak Allah ingin menunjukkan kesempurnaannya. Sebagai dua makhluk yang diciptakan berbeda dalam bentuk fisik, manusia akan memiliki kecenderungan antara satu jenis kepada jenis yang lainnya. Lihat saja di sekitar kita. Sejauh mata memandang adalah fitrah yang wajar bila kenyamanan didapati dalam bentuk kebersamaan dengan pasangan kita. Laki-laki dengan perempuan, atau sebaliknya. Lumrah bukan? Namun, apakah sejatinya kecenderungan itu karena perbedaan fisik semata? Kebanyakan pendapat menyatakan bahwa unsur logika lebih dominan pada diri seorang laki-laki, sebaliknya bagi perempuan. Perempuan dinilai bahwa perasaan lah yang mendominasi dalam dirinya. Apa pun pendapat orang tentang hal tersebut, sejatinya hal tersebut hanya akan menunjukkan satu lagi kesempurnaan-Nya. Berbeda itu tanda saling melengkapi. Sebab, laki-laki dan perempuan dengan masing-masing keunikannya, sejatinya adalah satu jiwa. Satu jiwa untuk saling melengkapi satu sama lain. Sehingga bila ada kesamaan pada keduanya, itu tanda sehati dan berbeda itu saling melengkapi. Bersatunya keduanya bukanlah karena lamanya waktu mereka telah bersama. Namun, semuanya adalah karena buah kecocokan jiwa, begitulah kata penyair Kahlil Gibran[2].

Perempuan Taat di Balik Pemimpin Hebat

Dalam konteks Islam, laki-laki dipandang memiliki potensi sebagai pemimpin dengan proporsi yang lebih besar dari pada perempuan. Hal ini sekali tentu bukan karena pemimpin tidak lebih cerdas dari laki-laki. Sungguh bukan seperti itu. Berapa banyak pendapat yang menilai perempuan lebih telaten, teliti, dan peka pada beberapa hal tertentu dibanding laki-laki? Bukankah itu kelebihan tersendiri yang sebenarnya memantaskan seorang perempuan menjadi pemimpin dibanding dengan laki-laki? Sungguh semuanya adalah bagian dari cantiknya pengaturan Allah dalam mengatur kehidupan manusia. Karena perempuan pun berhak bahkan tidak berlebihan bila dikata wajib untuk menjadi pemimpin. Tentunya dalam konteks yang berbeda. Pemimpin bagi jundi-jundi[3] kecilnya, misalkan.

Sebagai sebuah tatanan yang apik, antara pengaturan laki-laki dan perempuan. Allah meletakkan ketaatan wajib bagi seorang perempuan atas seorang laki-laki dalam hubungan rumah tangganya[4]. Jika, terbersit ketidakadilan di sini, ketahuilah bahwa Allah justru meletakkan posisi ibu tiga kali lebih dimuliakan daripada seorang bapak[5]. Ini semua tentu bukan tanpa alasan. Ini semua adalah bagian dari kesempurnaan dalam mengatur makhluk-Nya.

Ketaatan seorang perempuan atas kepemimpinan laki-laki membawa dampak yang sangat signifikan ternyata. Seorang perempuan di balik laki-laki membawa pengaruh yang sangat besar pada kepemimpinan laki-laki tersebut. Begitu pula sejarah telah membuktikan. Tiliklah sesosok Khadijah dengan keibuannya saat menyelimuti Rasulullah ketika beliau menggigil ketakutan setelah bertemu Jibril. Peran penenang, penyayang, pengayom jiwa tersebut menjadikan Rasulullah tumbuh menjadi seorang yang begitu dewasa dengan berbagai sifat kasih sayang dan belas kasihnnya yang bahkan sampai diabadikan dalam Al-Quran[6]. Dengan sifat ini, Rasulullah tumbuh menjadi pribadi yang tidak ada duanya. Sampai-sampai musuh beliau pun cinta pada sosok Rasulullah. Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin dunia yang lain.

Kemenangan Jiwa Adalah Kemenangan Sesungguhnya

Sebuah kepemimpinan pasti dilandasi dengan tujuan untuk apa kepemimpinan itu ada. Di balik perjuangan Rasulullah, ada sebuah risalah agung yang diembannya: I’la likalimatillah, menegakkan kalimat Allah. Kepemimpinan yang matang sebagai tonggak perjuangan sejatinya hanya akan dimiliki oleh seseorang yang memiliki kematangan jiwa. Kematangan jiwa dalam keikhlasan untuk apa kepemimpinan itu ada, kematangan jiwa dalam mengelola emosi dan mental yang senantiasa menggelora, kematangan jiwa untuk menjadi seorang yang layak untuk dikatakan sebagai seorang pemimpin. Ingatlah ketika Badar memanggil para calon syuhada penghuni surga. Perang dimana keimanan muslim terbaik mencapai puncaknya keimanannya. Walaupun jumlah pasukan hanya sepertiga dari musuh, mereka tetap tegar. Karena mereka yakin akan kemenangan akan datang. Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya. Karena bagi mereka, kemenangan jiwa adalah kemenangan hakiki. Bukan hidup di dunia fana yang mereka cari, tapi hidup setelah mati itulah sejatinya kehidupan yang abadi. Maka simaklah penuturan iman salah seorang sahabat, Sa’ad Bin Mua’dz:

“Demi Allah, Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu. Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar. Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu!


Bagi laki-laki, perempuan memiliki peran sebagai pendamping laki-laki dalam menenangkan jiwanya. Sebuah kepemimpinan harus diemban dengan jiwa dan hati yang tenang. Di sanalah peran perempuan di balik kepemimpinan.


[1] Dalam surat Al-Mulk ayat 3-4, Allah swt. menyatakan bahwa tidak ada sesuatu di dunia yang tidak seimbang. Bahkan penglihatan kita hanya akan dibuat payah dengan mencari-cari kecacatan Allah Yang Maha Sempurna.

[2] Kahlil Gibran adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Katholik kelahiran Lebanon. Walaupun kelahiran Lebanon, tetapi dia menghabiskan masa produktifnya di Amerika Serikat. Salah satu karya terkenalnya berjudul “The Prophet” atau “Sang Nabi”.

[3] Jundi dalam bahasa keluarga aktivis dakwah biasa disamaartikan dengan anak-anak.

[4] Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa : 34)

[5] Hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah dalam suatu hadits panjang yang salah satunya dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya – hadis no: 5971 (Kitab al-Adab, Bab siapakah manusia yang paling berhak untuk dilayan dengan baik).

[6] Dalam surah At-Taubah ayat 128, Allah berfirman:

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.