Salah satu prinsip jamaah Islam yang membedakan dengan kelompok atau golongan di luar adalah kepemimpinan yang sesuai dengan prinsip Islam. Kenapa harus sesuai dengan prinsip Islam? Karena Islam memandang bahwa agama (ad-dien) dimaknai sebagai pedoman hidup yang menyeluruh, tidak hanya sekadar peribadatan atau kepercayaan semata. Bentuk konsekuensi syahadatain dalam Isam adalah dengan melaksanakan Isam itu sendiri, secara kaffah tentunya.

Lalu pertanyaannya, bagaimanakah kepemimpinan Islam itu diperoleh? Menjawab hal ini tentu harus kita kembalikan pada bagaimana Rasulullah dan para sahabat beliau dalam memilih seorang pemimpin. Karena merekalah generasi Islam pertama yang meletakkan dasar-dasar keislaman. Khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih melalui baiat tunggal yang dilakukan saksama, Umar Bin Khattab menjadi khalifah dengan wasiat Abu Bakar, Ustman dipilih dengan sistem formatur dengan Abdurrahman Bin ‘Auf sebagai penengahnya (bahasa kita sekarang: presidium), sedangkan Ali Bin Abi Thalib dipilih melalui baiat yang dilakukan oleh sahabat Muhajirin dan Anshar bersama-sama walaupun pertama dia menolak. Apakah dari sini tampak bahwa sang khalifah meminta jabatan? Tentu tidak, karena Islam memandang amanah sebagai suatu yang berat. Seperti ungkapan Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa hal yang paling berat di dunia adalah amanah. Atau contoh sosok panglima perang penaklukan Konstantinopel semasa Sulthan Murad II? Dimana pada saat hari kamis, sang panglima ingin menunjuk seorang pemimpin shalat jumat, atau imam shalat. Semua pasukan yang dalam keadaan berdiri dan ditanya oleh panglimanya,

“Barang siapa yang mulai akil baligh pernah meninggalkan shalat fardhu, sekalipun hanya sekali, silakan duduk!” Hening. Tidak ada sama sekali yang duduk. Semua pasukkannya tidak pernah meninggalkan shalat fardhu.

“Siapa yang mulai akil baligh pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib, sekalipun hanya sekali, silakan duduk!” Dari pertanyaan ini, setengah pasukan dari keseluruhan duduk dan mereka jujur Sungguh pemilihan yang sangat nyentrik namun bermakna filosofis yang dalam bahwa sang panglima ingin memilih pemimpin yang benar-benar dipertimbangkan.

Dan pertanyaan terakhir, “Siapa yang mulai akil baligh pernah meninggalkan qiyamul lail, sekalipun hanya sekali, silakan duduk!” Akhirnya semua dari mereka mulai terduduk, kecuali satu orang. Siapa dia? Sang panglima sendiri. Siapa namanya? Dialah Muhammad A-Fatih, sang panglima terbaik di antara pasukan terbaik penakluk Konstantinopel.

Jadi, semacam itulah. Proses menjadikan seseorang menjadi pemimpin haruslah memperhatikan banyak hal dan pada dasarnya Islam tidak memberikan cara baku bagaimana memilih pemimpin. Namun, Islam meletakkan prinsip-prinsip bagaimanakah cara seorang pemimpin itu harusnya dipilih. Prinsip itulah yang tidak boleh berubah. Dalam konteks kekinian, tentu teknisnya bisa sangat bervariasi. Dan variasi itulah yang perlu diperbanyak referensinya, difilter, supaya bisa ditentukan bagaimanakah proses pemilihan yang tepat dalam koridor prinsip Islam.