Satu ungkapan pernah disampaikan salah seorang teman ana mengenai hal-ihwal membaca dan menulis yang sampai sekarang masih ana pegang filosofinya:

“Membacalah jika kau ingin melihat dunia. Menulislah jika kau ingin dunia mengenalmu.”

Sebuah filosofi sederhana tapi sangat dalam.

Sejarah telah membuktikan bahwa ide dan gagasan orang-orang besar yang sampai pada kita adalah melalui tulisannya. Dari tulisan yang sederhana baik berupa surat, catatan, sampai konsep pemikiran, selalu mereka monumentalisasi dengan goresan pena. Begitu pula yang dilakukan oleh para mujahid dakwah kita. Ustadz Rahmat Abdullah pernah berkata:

“Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat, dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.”

Bagaimanakah cita-cita, semangat, dan ajaran itu bisa tetap hidup? Semuanya melalui ide yang tertuang dalam bentuk tulisan. Karya yang dipahatkan dengan harapan generasi setelahnya dapat menyambung risalah mereka. Jangankan mujahid generasi salaf dan kalaf yang memang menjadikan segenap hidupnya untuk ilmu, sebutlah mujahid kontemporer yang biasa kita dengar seperti Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna dengan kumpulan surat dan pidatonya dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Ma’alim Fi-Ath-Thariq karya Sayyid Quthb, Ayyaturrohman Fii Jihadil Afghan dari mujahid Afghanistan Abdullah Azzam, Al-Khilafah Wa-al Mulk karya Abul A’la Al-Maududi, Al-Qiyadah wal Jundiyah-nya Syaikh Mustafa Masyhur, bukankah mereka berkarya dengan tulisannya? Tengoklah ulama-ulama yang merindukan tegaknya risalah Islam di Indonesia seperti Muhammad Natsir dengan Capita Selecta-nya, Tafsir Al-Azhar karya HAMKA, dan buku tokoh Islam nasional lainnya, senantiasa berupaya mengabadikan idenya melalui tulisan.

Berbicara masalah karya, perkembangan dunia kontemporer masa kini menuntut kita untuk senantiasa menumbuhkembangkan kultur ilmiah dalam diri dan organisasi kita. Apa itu kultur ilmiah? Memang tidak ada definisi pasti tentang apa itu kultur ilmiah, namun penulis pribadi lebih prefer mengartikan kultur ilmiah secara sederhana yaitu suatu proses siklus antara BACA-DISKUSI-TULIS.

Secara umum, kultur ilmiah merupakan budaya intelektual yang membuat seseorang senantiasa mengembangkan gagasannya. Seseorang yang memiliki kultur ilmiah akan senantiasa membiasakan diri untuk membaca. Karena dari membacalah ia memperoleh bahan wacana yang dapat dipertanggungjawabkan. Seseorang yang memiliki kultur ilmiah juga akan senantiasa mengembangkan wacana dengan tidak cukup hanya membaca tapi juga berbagi, sharing, berdialektika, dengan lawan diskusinya. Tak jarang bahkan dialektika itu dilakukan dengan mereka yang memiliki ide yang kontras, berlawanan. Itu semua tidak lain sebagai pengembangan pewacanaan baru untuk menyelesaikan masalah kontemporer yang muncul di kemudian hari yang membutuhkan ide dan gagasan baru-progresif.

“Dakwah is a dinamic art”, itu pula ungkapan yang biasa disampaikan oleh para aktivis dakwah yang menilai bahwa dakwah adalah salah satu bentuk seni yang berkembang dinamis. Namun, terkadang esensi dari ungkapan tersebut tidak benar-benar diinternalisasi dalam diri aktivis dakwah. Dengan memahami ungkapan dakwah sebagai art maka art atau seni adalah sesuatu yang bebas, sangat dinamis, dan menuntut kreativitas yang senantiasa berkembang, dan sudah barang tentu dibatasi dengan nilai syar’i yang disepakati bersama. Memang seperti itulah harusnya dakwah. Harus selalu ada wacana baru, sudah semestinya ada ide-ide progresif dalam berdakwah. Dakwah bukanlah suatu yang konservatif, statis, kaku, karena dakwah yang seperti itu hanyalah menghasilkan kejumudan, kebosanan, kebiasanaan yang monoton yang akhirnya meretakkan bangunan dakwah itu sendiri.

Oleh sebab itu, pewacanaan ide melalui kultur ilmiah dengan aktivitas BACA-DISKUSI-TULIS harus senantiasa ditumbuhkan pada diri setiap kader dakwah. Seorang kader dakwah harus kreatif dalam senin dakwahnya. Jangan sampai kreativitas kebaikan ini terpasung bila tidak berseberangan dengan syariat. Karena dakwah adalah cinta dan cinta senantiasa memiliki bentuk yang berbeda-beda dalam pemaknaannya.