Oleh: Bintang Gumilang

MUQODDIMAH: Kondisi Umat

Semakin tua, problematika dunia bukannya semakin menyusut tapi justru semakin menjadi-jadi. Jauhnya jarak antara kita dengan Rasulullah Muhammad saw. cukup menjadi salah satu faktor pudarnya asholah keislaman umat ini. Dengan sekian banyak problem umat yang ada, da’wah dengan tabligh dan kajian keislaman, nyatanya tidak cukup menjadi sistem imun dalam menjaga dan membenahi umat ini dari ghazwul yang dilakukan oleh musuh Islam yang juga ‘menda’wahkan’ nilai-nilai taghutnya.

Dewasa ini, umat Islam seakan telah resisten terhadap agamanya sendiri. Tubuh umat telah teracuni virus isme-isme yang disebarkan kaum Yahudi dan Nasrani, terlebih saat mereka menguasai media seperti saat ini. Relativisme nilai kebenaran, kehidupan materialis-hedonis, kerancuan terminologi, apatisme problematika kemanusiaan umat ini seakan lewat begitu saja tanpa ada kesadaran untuk ikut bergabung dalam barisan penegak kebaikan. Umat Islam bagai buih, tak berkekuatan, rapuh, terombang-ambing, tak lagi punya prinsip.

Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan.

Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.

Cinta kepada dunia dan takut mati![i]

Tuntunan dunia yang semakin dinamis akan varian problematikanya, menuntut para aktivis da’wah untuk semakin komprehensif menganalisis kondisi umat ini. Umat ini juga butuh ide-gagasan kreatif dalam menyusun siyasah da’wahnya. Siyasah da’wah menjadi salah satu penentu keberhasilan da’wah Islam ke depannya. Karena bermula dari sanalah manhaj ditegakkan serta uslub da’wah diorientasikan. Penentuan sektor sasaran menjadi perhatian penting dalam menyusun siyasah da’awi. Sektor da’wah bisa meliputi tatanan pimpinan, institusional/birokrasi pemerintahan, masyarakat umum, lembaga kemasyarakatan seperti pendidikan, kesehatan, perekonomian, atau sektor da’wah lainnya termasuk masyarakat bawah. Sebab, bermula dari targetlah analisis dilakukan dan solusi pemecahan problematika umat secara bertahap disusun dan diimplementasikan.

Dari sekian banyak sasaran da’wah, salah satu titik tolak peradaban dinilai muncul dari kalangan intelektual . Oleh karena itu, da’wah kampus menjadi salah satu sektor penting yang mesti tergarap oleh da’wah. Kaitannya dengan da’wah kampus, dari sekian banyak sifat dan bentuk varian da’wah salah satunya dilakukan dengan suatu hunian baik kos-kosan atau kontrakan yang difungsikan sebagai sarana da’wah. Istilah yang lebih umum dari da’wah jenis ini adalah da’wah hunian.

 

DEFINISI DA’WAH HUNIAN

Walaupun belum ada referensi khusus dan terpercaya dari terminologi ini, secara umum da’wah hunian merupakan salah satu sarana da’wah dengan menggunakan hunian. Dakwah hunian berfungsi sebagai sarana rekrutmen, riayah, maupun pembentukan muwashshofat kader da’wah pada penghuninya. Fungsi di atas dicapai dengan membuat sistem dalam hunian tersebut sehingga menunjang tujuan yang ingin dicapai.

Da’wah hunian lebih cocok diterapkan pada hunian yang berbentuk rumah kontrakan. Sebab, rumah yang dikontrak bersifat lebih fleksibel dalam pengelolaannya baik keuangan, fisik, aktivitas, terlebih lagi pengaturan penghuni yang bisa tinggal di sana. Rumah yang menjadi sarana da’wah hunian biasanya disebut kontrakan[ii], kontrakan muslim, atau kontrakan yang sudah diberi nama sesuai dengan kesepakatan penghuni da’wah hunian. Dalam tulisan ini, selanjutnya penulis akan menyebutnya dengan ‘kontrakan’ saja sebagai representasi sebutan rumah untuk da’wah hunian.

 

TUJUAN DA’WAH HUNIAN

Tujuan dari diadakannya kontrakan dalam da’wah hunian memiliki bermacam-macam motif tergantung perspektifnya. Kontrakan bagi seorang kader da’wah yang menjadi subjek da’wah, berguna sebagai sarana riayah dalam penjagaan ruhiyah. Sebab dengan adanya kontrakan maka sistem dan segala macam kesepakatan peraturan bisa diarahkan pada tujuan yang diinginkan. Adanya sejumlah ikhwah di kontrakan memungkinkan terbentuknya ukhuwah yang lebih dalam. Saling mengingatkan, kajian bersama, tilawah bersama, dan sebagainya memungkinkan untuk dilakukan. Sehingga, dari sanalah ruhiyah terjaga. Selain sebagai sarana riayah, kontrakan juga berfungsi penting sebagai basecamp bagi ikhwah yang aktif dalam merumuskan strategi da’wah ke depannya. Kontrakan berfungsi sebagai tempat syuro. Kelebihan syuro yang dilakukan di kontrakan adalah waktu syuro yang lebih fleksibel, perizinan yang lebih mudah, dan kontrakan lebih terjaga keamniyahannya karena lebih bisa terkondisikan. Namun, tujuan yang lebih penting dari da’wah hunian adalah sebagai sarana kaderisasi dengan mahasiswa baru sebagai objek da’wahnya.

IDEALITAS DA’WAH HUNIAN

Idealnya sebuah kontrakan da’wah hunian adalah kontrakan tersebut mampu menghasilkan kader terbina yang memiliki syaksiyah islamiyah dengan muwashshofat yang seharusnya. Penulis kira hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Asalkan, sistematisasi dengan analisis kondisi yang komprehensif, rapi, dan semua aspek yang berkaitan dengan tujuan da’wah hunian termanifestasi dalam sistem yang dibuat. Apabila sistem kontrakan tersebut telah dirumuskan maka permasalahannya tinggal pelaksana dan pelaksanaannya saja sebagai eksekutor  dan implemetasi sistem tersebut.

 

SISTEMATISASI DA’WAH HUNIAN

Pembentukan da’wah hunian yang mendekati keidealan minimal memiliki empat aspek yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. komposisi kader dan objek da’wah,
  2. karakter calon penghuni kontrakan,
  3. kesepakatan awal menjadi anggota kontrakan, dan
  4. sistem kontrakan.

 

Komposisi Kader dan Objek Da’wah

Komposisi antara kader dan objek da’wah memiliki urgensi dalam menjaga stabilitas di kontrakan. Stabilitas di sini meliputi banyak hal, namun yang paling penting adalah stabilitas kebijakan dalam penentuan peraturan, kesepakatan, maupun hal-hal lain yang sifatnya secara langsung maupun tidak langsung mengarahkan objek binaan da’wah hunian kepada Islam dan kepentingan jamaah da’wah.

Kaitannya dengan hal di atas, penentuan awal komposisi kontrakan perlu dipikirkan berapa jumlah ikhwah sebagai subjek da’wah dan mahasiswa baru sebagai objek da’wah. Jumlah ikhwah bisa dipengaruhi sejumlah variabel, di antaranya: jumlah kamar, jumlah objek da’wah, kualitas leadership ikhwah yang bersangkutan, dan variabel lainnya. Komposisi yang mungkin bisa menjadi pertimbangan adalah mengisi dua orang pada tiap kamar dengan komposisi satu orang ikhwah dan satu mahasiswa baru. Dengan komposisi tersebut diharapkan ada pemantauan, penjagaan, dan internalisasi nilai da’wah yang lebih intensif kepada objek da’wah. Selain itu, kelebihannya penyampaian nilai da’wah bisa disampaikan secara informal, lebih santai, kekeluargaan dengan harapan bisa lebih merasuk ke dalam qalbu sang objek da’wah.

 

Karakter Calon Penghuni kontrakan

Keterbatasan jumlah penghuni menuntut maksimalisasi fungsi kontrakan sebagai sarana da’wah hunian. Sehingga, memfirasati mahasiswa baru yang berpotensi berkembang sebagai aktivis da’wah cukup penting diperhatikan. Proses seleksi mereka yang akan ditawari menjadi penghuni kontrakan penting menjadi pertimbangan.

Prioritas mahasiswa baru yang menjadi kandidat penghuni kontrakan, pertama adalah mereka yang dulunya aktif sebagai ADS (Aktivis Da’wah Sekolah). Seorang ADS lebih terkondisikan ruhiyah, fikriyah, dan tsaqofah kejamaahannya. Sehingga nantinya, dalam beraktivitas di da’wah kampus, mereka tinggal ‘dipoles’ menjadi ADK (Aktivis Da’wah Kampus). Kedua adalah aktivis rohis[iii] atau organisasi keislaman yang ada di dalam maupun di luar sekolah. Sebab, mereka pasti juga lebih terkondisikan ruhiyah dan fikriyahnya. Tinggal tsaqofah kejamaahannya saja yang perlu dipahamkan. Bila dibandingkan dengan mahasiswa biasa, secara umum mereka masih jauh lebih berpotensi. Ketiga, adalah aktivis-organisatoris yang hanif dan berpotensi untuk berubah menjadi aktivis da’wah. Mereka yang aktif organisasi memiliki potensi tersendiri jika mampu dipahamkan dengan da’wah. Sebab, mereka adalah kaum elit yang telah memiliki jiwa kepemimpinan sehingga memiliki potensi daya tarik dan sifat persuasif yang baik. Aktivis-organisatoris seperti ini berpotensi besar sebagai anashir taghyir[iv] di lingkungan sekitar tempat dia berada.

 

Kesepakatan Awal Menjadi Anggota kontrakan

Setelah komposisi ikhwah sebagai subjek da’wah terpetakan dan karakter calon penghuni selesai disepakati dalam bahasan internal da’wah hunian, yang perlu dipersiapkan adalah kesepakatan awal bagi mahasiswa baru apabila bergabung dengan kontrakan. Adapun sejumlah hal prinsip yang perlu diperhatikan untuk menjadi kesepakatan adalah keharusan:

  1. menjaga ibadah wajib dan akhlak Islami
  2. mengikuti program kontrakan dan kajian mingguan
  3. menerima sanksi bila tidak memenuhi poin kesepakatan

Tujuan poin pertama tidak lain sebagai pembiasaan perilaku Islami, sedangkan poin kedua bertujuan untuk internalisasi nilai keislaman itu sendiri. Pada poin kedua, program konkret yang bisa dibuat adalah dengan membuat kesepakatan wajib, minimal mengikuti kajian kontrakan dan liqo/halaqah. Implementasi penyampaiannya tentu tidak harus menggunakan terminologi demikian, namun secara esensi bayan yang diberikan adalah liqo/halaqah. Sedangkan poin ketiga adalah sebagai bentuk jaminan pemenuhan poin pertama dan kedua. Keharusan tersebut jika didukung dengan konsekuensi akan memiliki legalitas yang lebih kuat. Jika memang diperlukan, apabila poin pertama dan kedua tidak dipenuhi, sanksi bisa diwujudkan dalam bentuk pengeluaran (drop out) dari kontrakan pada momen evaluasi kontrakan[v]. Tapi, dengan catatan hal tersebut telah tersampaikan dalam kesepakatan awal.

Adapun beberapa hal pendukung sebagai bentuk pengondisian da’wah hunian adalah poin kesepakatan untuk saling tsiqoh antaranggota kontrakan dengan menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, serta kenyamanan bersama. Upaya pendukung lainnya yang juga tak kalah penting untuk memuluskan tercapainya kesepakatan di atas, sejumlah poin kesepakatan tersebut perlu dibuat secara tertulis dalam bentuk surat pernyataan yang ditawarkan, disetujui, dan ditandatangani oleh yang bersangkutan yang ingin bergabung dalam kontrakan. Harapannya, hal ini menjadi legalisasi bagi mas’ul kontrakan untuk mengingatkan kesepakatan awal. Namun secara prinsip tetap, ta’liful qulub (ikatan hati) antaranggota kontrakan adalah yang paling utama untuk bisa saling menguatkan.

 

Sistem kontrakan

Sistem kontrakan secara umum sifatnya bebas dibuat dalam bentuk apa pun. Hanya saja jangan dilupakan bahwa target dari da’wah hunian dalam kontrakan harus ada dan terpenuhi. Beberapa hal pengondisian yang akan penulis paparkan di sini meliputi: pengondisian awal dan ruhiyah-fikriyah-jasadiyah.

 

Pengondisian Awal

Pengondisian da’wah hunian penting untuk dilakukan karena di sinilah tahap terbentuknya karakter kontrakan. Persepsi akan fungsi rumah bagi tiap person menentukan aktivitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, perlu digarisbawahi bahwa kontrakan ini adalah kontrakan muslim yang berbeda dengan kontrakan lainnya terlebih kos-kosan. Tanamkan dari awal bahwa kontrakan ini ingin senantiasa membentuk suatu keluarga yang mengupayakan kenyamanan, kepercayaan, dan perkembangan bersama ke arah kebaikan. Sehingga hal pertama setelah ‘kontrak’ dengan kesepakatan adalah pembentukan ta’liful qulub (ikatan hati) antarperson dalam kontrakan. Adapun sejumlah uslub (cara) pembentukannya adalah sebagai berikut.

 

Ta’aruf (Self Introduction)

Mungkin kebanyakan dari kita sudah seringkali menjalani proses ta’aruf (perkenalan). Namun, secara umum perkenalan sebenarnya terbagi menjadi dua macam: personal introduction (PI) dan self introduction (SI). Sekilas memang tampak sama, namun dalam mekanismenya kedua jenis ta’aruf ini memiliki target yang berbeda. Personal introduction secara umum targetnya adalah menjawab pertanyaan “what is he”, ia sebagai apa. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita hanya ingin sekadar tahu. Contoh sederhana dari target personal introduction adalah untuk megetahui sejumlah hal yang berkaitan dengan biodata, pekerjaan, status, aktivitas, organisasi, dan sejumlah hal yang sifatnya permukaan.

Berbeda dengan self introduction. Self introduction memiliki target untuk menjawab pertanyaan “who is he” dan/atau “how is he”. Seseorang yang melakukan perkenalan ini dituntut untuk memperkenalkan kediriannya. Contoh sederhana target dari self introduction adalah mengetahui hal yang berkaitan dengan biodata diri, aktivitas, status, hobi, pandangan dia tentang kelompok/komunitas yang mengadakan perkenalan, motivasi, harapan, tujuan, sifat dominan baik/buruk, personal orang lain yang disukai/tidak disukai, saya tidak suka apabila…, saya suka apabila…, saya suka diperlakukan dengan cara…, saya tidak suka diperlakukan dengan cara…, cara menasihati, apabila marah bagaimana memperlakukan, kecenderungan individual atau komunal, persepsi terhadap teman sesama kelompok, persepsi terhadap lawan jenis, saya, kondisi keluarga (apakah ada masalah?), dan lain-lain. Apabila kaitannya dengan sebuah komunitas heterogen, bagaimana pandangan tentang rasa cinta antara ikhwan-akhwat, adalah salah satu bentuk perkenalan dalam self introduction. Pada intinya self introduction adalah keterbukaan dimana seseorang tidak hanya mengenalkan hal permukaan, tapi juga memahamkan orang lain terhadap dirinya. Sehingga ke depannya masing-masing personal mampu menempatkan dirinya.

Secara umum self introduction memang tidak bisa dilakukan dalam kelompok yang terlalu besar. Ada beberapa syarat self introduction bisa berlaku dan berjalan sesuai dengan tujuan. Adapun sejumlah syarat tersebut adalah

1. Menghadirkan semua anggota

Hal ini penting. Apabila belum bisa terkumpul semua, disarankan self introduction tidak dimulai atau dijadwalkan kembali sampai semuanya hadir. Sebab, di sinilah semua orang menampilkan keterbukaan dan kesan pertamanya masing-masing.

2. Dipimpin oleh pemimpin yang assertif[vi]

Membuat seseorang terbuka tidaklah mudah. Oleh karena itu, perlu ada contoh bagaimana keterbukaan itu dimunculkan. Sehingga, pemimpin forum self introduction adalah orang pertama yang harus memperkenalkan diri. Dengan itu, secara tidak langsung minimal akan ada standar apa saja yang harus diperkenalkan dalam forum tersebut. Sehubungan dengan itu maka pemimpin forum harus memiliki minimal sifat dasar agar bisa terbuka baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain, yaitu assertif.

3. Kesepakatan awal dalam self introduction

Memulai self introduction hendaknya diawali dengan penjelasan tujuannya. Penjelasan tujuan bermaksud agar masing-masing personal memahami urgensi keterbukaan dalam forum tersebut karena kaitannya adalah kehidupan bersama—sementara—yang juga tidak sebentar. Dari sana, harapannya masing-masing personal bisa terbuka. Setelah penjelasan tujuan agar lebih terarah maka dalam forum bisa dibentuk kesepakatan awal apa saja yang akan disampaikan. Mekanisme ini juga bisa disiasati dengan pemberian form biodata, identitas diri, atau daftar riwayat hidup (DRH) atau sejenisnya yang mencakup pertanyaan dalam self introduction.

 

Pembentukan Struktur Kontrakan

Pembentukan struktur kontrakan juga penting untuk ta’liful qulub. Dari sini masing-masing anggota akan merasa teramanahi. Perasaan bertanggung jawab akan senantiasa menumbuhkan rasa ‘saya diterima dan dibutuhkan di sini’. Dan hal ini akan semakin menumbuhkan rasa memiliki, baik kontrakan itu sendiri maupun sesama anggota. Struktur kontrakan bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan yang diepakati. Yang pasti mas’ul (penanggung jawab/pemimpin) harus ada dalam struktur kontrakan. Struktur pendukung lainnya antara lain sekretaris dan bendahara untuk kesekretariatan, PJ kebersihan-ketertiban untuk estetika kontrakan, PJ perlengkapan-keamanan untuk urusan kondisi kontrakan, PJ humas untuk urusan eksternal kontrakan, PJ tarbawi untuk urusan pengondisian ruhiyah, dan lain-lain.

 

Pembentukan Jadwal dan Agenda Berkala

Yang dimaksud dengan pembentukan jadwal dan agenda berkala adalah program kontrakan yang berupa jadwal untuk menjaga kondisi kontrakan dan penghuni. Jadwal yang dimaksud misalkan jadwal piket, jadwal masak, jadwal beli galon, jadwal kuras kamar mandi, dan jadwal lainnya. Agenda yang dimaksud misalkan agenda kerja bakti, riyadhoh, dan agenda lainnya. Program lain yang mungkin bisa dijalankan, misalnya room assessment sebagai program penilaian kamar terbaik yang bisa memotivasi kebersihan. Program lainnya misalkan rihlah, jaulah antarkontrakan muslim, silaturahim tetangga kontrakan, halal bi halal, kajian besar kontrakan, dan lain-lain.

Pengadaan program kontrakan bisa sangat beragam tergantung kesepakatan anggota. Namun, satu program yang harus ada adalah program evaluasi baik disebut rapat kontrakan, syuro, atau yang lainnya. Karena dengan sarana inilah seluruh program kontrakan ditetapkan, dievaluasi, dan ditiadakan. Program evaluasi ini hendaknya disusun secara berkala dengan waktu tetap agar dapat dihadiri semua anggota.

 

Pengondisian Fikriyah-Ruhiyah

Tujuan dari da’wah hunian merupakan salah satu proses pengaderan da’wah khususnya untuk mahasiswa baru. Pembentukan aspek ideologis bagi kader da’wah menjadi hal yang tidak bisa dielakkan. Keseimbangan aspek syaksiyah bagi kader adalah keniscayaan yang tak terbantahkan. Kontrakan sebagai sarana pengaderan harus memiliki sistem yang baik dalam pengembangan kader di dalamnya, baik aspek fikriyah dan ruhiyah. Adapun beberapa prinsip pengondisian aspek tersebut adalah

1. Liqo pekanan

Liqo secara etimologi (bahasa) artinya pertemuan. Liqo pekanan ini penting sebagai salah satu upaya pengondisian yang paling utama. Pertemuan dalam nuansa sarat ukhuwah yang dilakukan secara istimror akan lebih cepat membentuk muwashshafat sebagai seorang kader da’wah. Rasulullah saw. pernah bersabda “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah SWT adalah yang paling kontinyu (dawam) dilakukan meski sedikit.” (HR al-Bukhari).

2. Kajian dan taujih kontrakan

Kajian dan taujih kontrakan ini termasuk upaya dalam penjagaan pula. Mungkin dalam bahasan ini, terlihat sangat padat akan hal yang sifatnya kajian dan kajian. Sehingga, yang perlu dirumuskan lebih lanjut adalah bagaimana mengemas sejumlah program tersebut.

Kajian kontrakan yang saya maksud di sini adalah kajian rutin yang dihadiri semua anggota. Rutinitas kajian ini cukup dilaksanakan satu kali dalam satu minggu dalam waktu yang relatif singkat, berkisar sekitar satu jam saja termasuk sesi diskusi. Sedangkan yang saya maksud dengan taujih di atas adalah adalah taujih bergilir terjadwal yang dilakukan setiap ba’da shubuh. Harapannya, sejumlah program ini juga mampu mengondisikan dan melatih manajemen waktu tiap anggota kontrakan khususnya dalam bangun shubuh.

3. Perpustakaan

Fungsi dari perpustakaan kontrakan tidak lain sebagai tempat sumber bacaan sebagai referensi perluasan tsaqofah islamiyah. Kebiasaan membaca adalah salah satu keniscayaan bagi kader da’wah. Seorang kader da’wah dituntut untuk senantiasa paham perkembangan fikroh yang beredar di masyarakat. Sehingga keluasan tsaqofah mutlak diperlukan. Karena dari membacalah kader dapat melihat isi dunia dan dengan menulislah kader dapat mengenalkan Islam kepada dunia.

 

 


[i] Silsilah hadits shahih nomor 958

[ii] Secara umum dalam dunia kekampusan, mahasiswa jarang memilih tinggal di selain kos-kosan. Selain karena privasi, jumlah kos-kosan yang banyak pilihan, kontrakan menuntut yang bersangkutan untuk mencari teman yang sevisi untuk mengontrak bersama. Sebab, satu rumah tidak mungkin dikontrak sendirian karena bisa dipastikan mahal. Jadi, mahasiswa yang biasanya mengontrak adalah mereka yang aktif dalam kegiatan da’wah.

[iii] Rohis kepanjangannya adalah kerohanian Islam.

[iv] Anashir taghyir adalah istilah populer lain dari agent of change atau agen perubahan. Seorang snashir taghyir diharapkan mampu menjadi seseorang yang bisa membawa perubahan yang lebih baik.

[v] Akan dibahas di tulisan berikutnya pada subbab Sistem kontrakan

[vi] Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990). Menurut Suterlinah Sukaji (1983), perilaku asertif adalah perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang tepat, jujur, relative terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain.