Diakui atau tidak, sedikit atau banyak eksistensi seorang pemimpin adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan dari  struktur organisasi. Ibarat tubuh pemimpin berperan sebagai jantung pada tubuh tersebut, menjadi poros pemutar roda organisasi, pemompa aliran darah juang kadernya, serta penjaga asholah nilai ideologis tujuan organisasinya. Seorang pemimpin bisa dikatakan matang apabila dia mampu memahami, menjaga, dan memahami minimal tiga aspek yang menjadi ruh eksistensi sebuah bangunan organisasi.

1. Ideologis

Organisasi yang berideologis artinya eksistensi organisasi tersebut membawa satu nilai yang dipegang teguh, dipahami, dan diperjuangkan oleh seluruh elemen organisasi tersebut. Harapannya, nilai perjuangan itu bisa termanifestasi dan menjadi warna di masyarakat. Ketika sutau organisasi tidak memiliki ideologi yang jelas dalam pergerakannya, tidak berlebihan bila kita sebut kumpulan orang tersebut bukanlah suatu organisasi, namun hanya kerumunan, paguyuban, atau kelompok yang tidak jelas dan tidak akan memberikan pengaruh pada sosio kultur masyarakat.

Pemimpin di dalam organisasi pergerakan dakwah tentunya harus paham benar bahwa pergerakan yang diembannya berideologi islam. Sehingga konsekuensi dari amanah yang diembannya sebagai pemimpin adalah bagaimana menjadikan dirinya, kadernya, mekanisme organisasinya, serta seluruh aktivitas eksternal organisasi tersebut tetap di dalam khittah (koridor) nilai-nilai asholah (keaslian) dakwah sesuai dengan pokok-pokok ajaran islam. Niat, iltizam (komitmen), jidiyyah (militansi), dan ’amalnya semuanya harus diperhatikan apakah semuanya sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah atau tidak. Seperti itulah profil seorang kader dakwah sesungguhnya. Terlebih jika dia adalah seorang pemimpin. Sebab, selama pemimpin berpegang pada buhul tali Allah, insyaALLAH dia tidak akan tergelincir di jalan yang hina dan akan selalu mendapatkan nasrullah, pertolongan Allah.

2. Mekanis

Pemimpin yang memiliki pemahaman yang dalam akan akar ideologinya, tentu akan mendasarkan semua kebijakannya, mulai dari ’amal, struktur, dhawabit (kedisiplinan),  bahkan sampai ijtima’i (pergaulan) antarkadernya, dan segala mekanisme lainnya, sesuai dengan prinsip-prinsip islam. Sekalipun mekanisme organisasi—yang lebih cenderung pada tataran struktural—hanyalah suatu cabang thoriqoh (metode) dalam pengelolaan dan perapian keorganisasian—dengan kata lain bukan suatu yang prinsip-, namun seorang pemimpin yang memahami hakikat organisasi yang tujuannya adalah memudahkan, akan menimbang kemadharatan dan kemanfaatan strukturalisasi dan mekanisme di dalamnya. Sehingga, pembagian job description (deskripsi kerja) pun jelas, garis instruksional pun terarah, dan pemfokusan yang berimbas pada pemaksimalan kerja pun tercapai. Itu semua hanya akan terjadi jika pada aspek mekanis –yang menuntut pemahaman pengelolaan organisasi—benar-benar dipahami oleh pemimpin tersebut.

3. Humanis

Ada kalanya seorang kader baru bertanya-tanya terkait organisasi yang baru  diikutinya itu pada qiyadahnya, namun ternyata jawaban yang didapat sama sekali tidak memuaskan dan justru wajah cuek qiyadah yang terlihat di sana. Seorang kader terlihat kecewa pada qiyadahnya hanya karena masalah sepele mengenai ketidakterbukaan dan sifat yang cenderung ditutup-tutupi tanpa sebab yang jelas, sehingga si kader tadi tidak terima akan sikap qiyadahnya. Dan akhirnya pada hari-hari ke depannya sang kader cenderung menjadi pembangkang. Diakui atau tidak, masalahyang terjadi di tubuh organisasi biasanya bersumber pada permasalahan personal yang cenderung memainkan sisi idealisme dan egoisme yang menjadi kepribadian masing-masing kader. Kepentingan pribadi terkadang memang ada. Itulah yang harus dipahami oleh qiyadah untuk dikelola dan dibentuk sedemikian rupa agar tujuan organisasi dakwah tetap menjadi orientasi utama. Tidak salah dan memang hal itu sama sekali bukan suatu kekurangan jika seorang kader cenderung ingin didengar dan diterima karena hal itu adalah bagian dari sifatnya sebagai seorang manusia. Namun, masalahnya sekarang adalah apakah turbulansi idealisme dan egoisme kader ini berputar dan menempati ranah yang tepat di dalam tubuh organisasi tersebut atau tidak?

Seroang pemimpin yang memiliki pemahaman akan sifat humanis seorang manusia tentu harus memahami akan ragamnya karakter dari para kadernya. Pemahaman akan hal ini akan menimbulkan sifat toleransi dan pemakluman akan dinamika di dalam perkembangan kader-kadernya. Hal yang terpenting lagi bagi seorang pemimpin adalah dia harus lebih mengenal sifat dari tiap kadernya daripada orang lain di dalam organisasi tersebut. Mulai dari siapa dia, darimana asalnya, siapa teman dekatnya, bagaimana latar belakang pendidikan agama dan akademiknya, dimana tinggalnya, apa hal yang disukainya, apa hal yang tidak dia sukai, kecenderungan sifat baik-buruknya, cara menasihatinya, pandangan dia terhadap organisasi, motivasi-tujuan-harapan di organisasi, pemahaman fiqh dia, kedalaman tsaqofahnya, dan semua terkait dengan diri kader tersebut, pemimpin dituntut lebih mengetahui daripada kader yang lain. Seperti itulah sosok profil pemimpin yang ideal. Sehingga harapannya pemimpin bisa menjadi sosok penengah segala permasalahan di dalam organisasi tersebut, penetralisasi dari segala dinamikanya, serta bisa ’memanusiakan manusia’ sebagaimana keniscayaan seorang kader yang memiliki beragam karakter dan kepribadian.

Pemimpin yang ideal dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah dambaan tiap kader. Sulit memang menemukan seseorang dengan kriteria yang kita inginkan, karena diakui atau tidak terkadang orang lain menilai dengan pandangan yang berbeda dari pandangan kita. Namun, satu hal yang pasti bahwa harapan itu masih ada jika kita mau terbuka dan menerima seorang pemimpin dengan segala kerkurangan dan kelebihannya. Karena pemimpin ada untuk kita dan kita ada juga untuk dia memimpin pergerakan kita. Sehingga, pemimpin yang kita butuhkan sekarang adalah pemimpin yang mampu memegang teguh sifat dan sikap ideologinya yang ditancapkan penuh merasuk dalam relung hatinya.