“Why Do We Read Quran Even If We Can’t Understand A single Arabic Word?”
Mengapa ya?
Ini salah satu pertanyaan yang dulu sempat terlintas dalam pikiranku, Kawan.
Tak kusangka bisa ku dapatkan jawabannya lewat dunia maya ini. Ya, pertanyaan simpel namun juga cukup mebuat kita bertanya-tanya, “Mengapa kita membaca sekalipun kita tidak dapat memahami satu patah kata Arab pun?”

Why?!

Check this out, suatu cerita yang sedikit menggelitik tentang Al-Quran, mengapa harus dibaca sekalipun kita tidak dapat memahami arti atau penafsirannya. Eits, tapi bukan berarti kemudian kita boleh saja tidak mempelajarinya lho ya… Semuanya berproses dari sekadar membaca, mengartikan, memahami, menghayati sampai menafsirkan berdasarkan pemahaman salafus-shalih dan mufassirin.

Disadur dari : http://rohis94.blogspot.com/2008/11/why-do-we-read-quraan.html dan sumber-sumber umum lainnya (cerita ini sudah banyak beredar tanpa ada keterangan sumber asal yang jelas)

Why do we read Quraan, even if we can’t understand a single Arabic word ?Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti satupun artinya ?

This is a beautiful story :

Ini suatu cerita yang indah :

An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya.

His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. One day the grandson asked, “Grandpa! I try to read the Qur’an just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?”Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur’An?

The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.” Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas sambil berkata , ” Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”

The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the bas ket was empty before he returned home. Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.

Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah bolong , maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau satu ember air ; aku hanya mau satu keranjang air.

You’re just not trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, “See Grandpa, it’s useless!” “So you think it is useless?” Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” ” Jadi kamu pikir percuma?”

The old man said, “Look at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out.Kakek berkata, ” Lihatlah keranjangnya. ” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “

“Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You mi ght not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, didalam dan diluar dirimu . 

Subhanallah
Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaa, subhaanaka faqinaa adzaabannaar
Maha suci Allah
Ya Rabb, tidaklah Engkau ciptakan ini [langit, bumi, dan seisinya] dengan sia-sia, maha suci Engkau maka lindungilah aku dari api neraka.

Kesimpulan semestara penulis [sampai datangnya ilmu yang baru dari Allah] bahwa Allah tidak mensyariatkan sesuatu kepada hamba-hamba-Nya kecuali ada maksud, ada tujuan, ada kebaikan yang diinginkan kepada hamban-hamba-Nya. Memang, terkadang kita bertanya-tanya, “Kenapa sih kita diperintah begini?”, “Apa maksudnya Allah menyuruh manusia seperti ini?”, “Kenapa begini, tidak begitu?”
Kembalikanlah semuanya pada hakikat kholiq dan makhluq kawan. Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah Maha Besar. Allah lebih tau atas jawaban pertanyaan-pertanyaan kita mengapa begini dan begitu dan agama, hidup, dan semua yang ada pada diri kita. Kembalikanlah semuanya pada Allah bila kau memiliki keraguan atas-Nya. Karena ketahuilah Allah lebih tau dari kita karena Dialah pencipta kita, bumi, langit, alam semesta, dan semuanya.
Termasuk mengapa kita diminta membaca ayat-ayat Al-Quran sekalipun belum memahami arti, makna, dan tafsirannya. Dan mengapa walaupun hanya membacanya, pahalanya begitu luar biasa seperti posting sebelumnya.
So, mari baca, pahami, amalkan, dan bumikan Al-Quran. ^_^

Salam intelektual profetik untuk kita semua.