Sangat wajar saya kira bila kita mengenang seseorang yang sangat berarti bagi hidup kita. Terlebih bila seorang yang kita kenang adalah orang mampu mengubah pola pikir dan pandang kita terhadap dunia ini. Dari yang abstrak tak jelas visinya menjadi terang bahwa satu yang dicari, dari yang abu-abu jelas hitam-putihnya dan dari yang tak tersentuh menjadi dapat diraba dan insyaAllah dapat diraih jika mau berusaha. Itulah sekilas maqom kita sebelum mengenal Islam yang syamil-kamil-mutakamil dan sesudahnya.

Dalam note kali ini izinkanlah saya mengenang kata-kata seorang pribadi yang tak pernah saya temui dan saya rasa tak pernah saya akan menemuinya kecuali di surga–-insyaAllah, semoga Allah swt. mengumpulkan saya dengan Rasululloh saw. dan orang-orang mukmin di surganya kelak (yang baca note ini juga. Amiin). Namun, sungguh beliau telah menginspirasi saya untuk bergabung dalam tandzim suatu jama’ah, hanya melalui sebuah film. Ya, hanya melalui sebuah film yang dibiografikan untuk beliau, Sang Murabbi Mencari Spirit Yang Hilang, mengenang syaikhut tarbiyah: Ustadz Rahmat Abdullah—Allahu yarham–.

“Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara orientasi kekuasaan.

Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya, lalu tertidur-tidur tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap dia harus kembali pada akar masalahnya, akar tarbiyahnya, mahabbin, tempat kancah dia dibangun.”

Suatu ironi memang ketika sebuah amal jama’i dalam koridor dakwah yang telah diusung dengan beratnya sehingga peluh, tenaga, harta, nyawa pun bisa melayang karenanya—sehingga liqo’ pun harus menyembunyikan sandal di dalam rumah supaya tidak ketahuan ada perkumpulan di dalam rumah tersebut, Al-Qur’an dan buku dibungkus di dalam tas kresek, dan berjalan serta masuk di dalam lingkaran pun harus sendiri-sendiri supaya tidak dicurigai—kemudian kehilangan keasliannya dalam makna dakwah itu sendiri karena pribadi, person, orang yang tidak memahami dakwah itu sendiri sehingga berorientasi pada kekuasaan tanpa mengembalikan pada akar tarbiyahnya, kancah tenpat dia dibangun seperti kata ustadz di atas.

Memang suatu keniscayaan bahwa dakwah butuh power, kekuatan, kuasa agar bisa membuka lahan-lahan yang kering kerontang dari Islam, seperti Rasululloh yang mengirimkan surat-suratnya mengajak para pembesar pada zaman itu untuk menerima Islam Perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Islam, itu pula yang sedang kita ikhtiarkan sekarang. Namun, tampaknya dalam kalimat ini al-ustadz menunjukkan kekhawatirannya pada kita, kader, yang beliau idamkan untuk menjadi penerus perjuangan rasululloh saw., kehilangan maknawi dari perjuangan dakwah itu sendiri, perjuangan meninggikan kalimah Allah, yang tidak hanya sekadar as-sulthon yang dicari untuk kebaikan umat ini, tetapi as-sulthonan-nashiro, kekuasaan yang menolong. Jika kita mau bertanya, apakah Allah akan benar-benar memberikan kekuasaan yang menolong ketika pada diri kader dakwahnya masih banyak kesilapan dalam mnyempurnakan Syaksiyah Islamiyahnya? Apakah Allah akan benar-benar memberikan kekuasaan yang menolong ketika cara yang dilakukan untuk meraih kekuasaan itu adalah cara yang tidak ahsan? Apakah Allah akan benar-benar memberikan kekuasaan yang menolong ketika pada diri kita berdominasi nafsu bukan niat yang tulus untuk Allah? Allahu akbar…!

Sesungguhnya suatu tujuan yang baik harus diawali dengan amal yang baik pula. Dan amal yang baik pun harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Dan cara yang baik itu pun harus didasari dengan kaidah syari’ah dan niat satu, karena ALLAH saja! Itulah sebaik-baik niat, amal, dan ghoyah.

Inilah asholah dakwah—-tentu menurut penulis dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Di sini saya hanya ingin mengingatkan diri saya pribadi yang semoga menetapi niat dan ikhtiar dalam koridor asholah dakwah(keaslian dakwah) hanya karena-Nya, dan semoga pada diri antum juga. Amiin.

Walloohu a’lam bish-showaab. Subhaanakalloohumma wabihamdika asy-hadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa ‘atubu ilayh.

Wassalaamu’alaykum waromatullooh wabarokaatuh

Mencari Spirit Yang Hilang

*diselesaikan dini hari berbulan-bulan lampau ketika penulis masih hijau.